Kacau jiwa
Seperti semua yang keluar dari bibir tua itu mengganggu otak aku. Ada saja yang aku buat ini tak kena, ada saja ingin disangkal, dibantah, dibetah. Kenapa tidak terima seadanya?
Kata orang mempersoal itu banyak jenisnya, ada yang betul untuk tahu jawapannya, ada yang ingin lagak bijak, ada juga yang sengaja ingin sakitkan hati yang disoal. Seringkali yang terakhir ditujukan pada aku.
Aku ini orang asingkah yang dia ingin sakitkan begini? Aku ini tidak berhargakah?
Atau mungkin ini persiapan untuk aku hadapi dunia luar? Mungkin ini cara dia berkata "Nak, di luar sana lagi ramai yang akan menyakiti hatimu. Biar aku sakitkanmu sekarang jadi nanti kau sudah lali"?
Apa pun sebabnya, natijahnya tetap sama: jiwa tetap kacau, hati tetap meracau.
Dan seringkali aku persoalkan, mana pergi pelindung aku yang terjadinya aku darinya? Kenapa selalu biarkan aku berlawan sendirian? Kenapa hanya lihat dari kerusi penonton paling depan berhadapan pentas? Kenapa tidak ditentang bersama?
Adakah aku hanya patut terima saja? Tadah saja sampai rebah?
Mungkin betul, Tuhan ciptakan semua manusia berbeza. Dan Dia ciptakan aku lemah dan wajar duduk di bawah tanah.
Comments
Post a Comment